Jumat, 05 Oktober 2012

Teori Behavioristik



PENDEKATAN BEHAVIORISTIK

            Latar belakang teorinya adalah teori belajar (theory of learning), yang intinya adalah learning proces dan dan conditioning response. Kalau dalam pendekatan psikoanalisa, orang dikatakan sakit (abnormal) itu adalah ketika depense nya bocor yang menyebabkan kecemasan. Sedangkan menurut pendekatan behavioristik orang sakit itu, adalah perilaku yang salah akibat proses belajar yang salah, penyelesaiannya mengacu epada proses learning itu sendiri. Contohnya, anak yang melihat
ibunya marah ketika tukang Koran dating terlambat mengantarkan koran, maka anak tersebut bisa saja meniru dan melakukan hal yang sama kepada orang lain.
Terapi behavoiristik tidak mengubah pola dasar kepribadian, tetapi hanya menghilangkan symptom dan merubah pola tingkah laku yang tidak tepat. Contohnya, ketika anak melakukan adegan-adegan film kekerasan seperti pembunuhan, perkelahian dan lain-lain, maka anak akan mudah untuk menirunya. Terapi behavioristik sering kali tidak ada usaha untuk mengeksplorerasi dan menelaah ketidaksadaran, membangkitkan insight, ataupun menimbulkan perubahan-perubahan dasar pada pasien. Dengan terapi ini akan merubah kognisi emosi, atau pola fikirnya. Contohnya, ketika orang takut darah dan persepsi terhadap darah itu menakutkan, maka setelah dibuktikan bahwa darah itu tidaklah menkutkan, dia akan merubah pola fikirnya dan persepsi terhadap darah itu akan berubah.
Behavioristik berhubungan dengan kognitif, karena sangat berperan penting dalam mengubah pola fakir terhadap sesuatu. Misalnya, ketika di suatu mall yang menawarkan diskon-diskon agar konsumen mau masuk dan tertarik untuk berbelanja, dan selanjutnya konsumen ini akan dating lagi ke mall tersebut karena sebelumnya ada diskon, meskipun nanti diskonnya sudah tidak ada, konsumen akan tertarik untuk dating kembali ke mall tersebut.
Teori-teorinya adalah:
·         Simple Classical Conditioning (Puvlov)
Teorinya S-R, lebih banyak digunakan untuk menghilangkan habit atau kebiasaan.
·         Operant Conditioning
Pada teknik ini digunakan reinforcement untuk memperkuat tingkah laku yang diinginkan. Teknik ini berkembang dari S-O-R sampai menjadi S-O-R-C. Konsekuensi di dapat dari lingkungan, sehingga sebenarnya reward di dapatkan dari lingkungan.
Misalnya, merubah tingkah laku seorang pecandu rokok, ketika orang tersebut mulai menginginkan rokoknya, maka langsung berikan sebungkus rokok yang harus dia isap pada waktu itu juga. Meskipun akan ada dua kemungkinan, orang tersebut kapok dan tidak mengulanginya atau malah senang karena diberi sebungkus rokok.
Operan conditioning ini menggunakan reinforcement, misalnya ketika seorang siswa yang biasanya nakal, ketika siswa tersebut tidak nakal lagi, maka diberikan reward denganmemberinya bintang.
·         Overtion Conditioning
Yaitu suatu cara untuk mengubah pola perilaku yang dicapai berdasarkan Assosiasi terhadap hukuman atau punishment terhadap pola perilaku yang tidak dikehendaki. Misalnya, orang yang suka mabuk-mabukan, di botolnya diberi sesuatu yang dapat membuat orang tersebut jijik sampai muntah, dengan begitu orang itu ketika melihat botol minumannya akan merasa jijik dan meninggalkan minuman tersebut.
·         Reciprocal Inhibition
Merupakan teknik reconditioning yang lebih kompleks dari cara-cara sebelumnya. Dasar pemikiran (Wolpe) perilaku neurotic itu merupakan suatu perilaku yang terus menerus dilakukan sehingga menjadi habis atau kebiasaan. Contohnya, ketika orang takut ular, awalnya diberikan gambar ular, kemudian ular bohongan baru selanjutnya diberikan ular yang asli nya.

Proses treatmentnya, sebagai berikut:
Ø  Terapis membuat daftar kecemasan yang ada pada pasien melalui wawancara atau tes
Ø  Terapis mengurutkn daftar tadi secara hierarkis
Ø  Diadakan suatu sesi training relaxsasi otot secara sistematik.

Ada cara-cara bagaimana menembus inhibisi,diantaranya sebagai berikut:
-          Felling Talk, yaitu menyatakan perasaan apa saja, kapan saja dan dimana saja
-          Facial Talk, yaitu membiasakan untuk menekspresikan perasaannya
-          Melatih berbicara dan mengatakan hal-hal yng tidak disetujui dengan terbuka
-          Biasakan menerima penghargaan
-          Melaksanakan

Pandangan Behavioristik terhadap sifat manusia
-          Deterministik, yaitu tingkah laku manusia merupakan hasil proses belajar dan pengkondisian lingkungan sosial budaya
-          Psikopatologi, yang di tentukan oleh kerusakan atau gangguan irganik (Mental Retardation) dan diperoleh dari hasil belajar yang tidak sesuai (no adaptiv)
-          Neurosis, kebiasaan yang tidak sesuai yang menetap yang diperoleh dari hasil belajar didalam menghadapi anxiety, misalnya phobia
-          Anxiety, respon anatomik pada karakteristik individu dalam menghadapi stimulus yang membahayakan

Ciri khas dari terapi Behavioristik adalah:
·        Memusatkan perhatian pada tingkah laku yang tampak dan spesifik, misalnya orang yang mengatakan selalu cemas ketika berada di dalam kelas, maka yang harus ditanyakan pada saat kapan cemas itu ada? Setiap saat? Atau ketika ada siapa cemas itu ada? Dan sebagainya
·        Cermat dan adanya penguraian tujuan-tujuan treatment secara jelas
·        Perumusan prosedur treatment yang spesifik yang sesuai dengan masalah
·        Penaksiran yang objektif atas hasil-hasil terapi

Tujuan terapi:
-          Memperoleh tingkah laku baru
-          Menghapus tingkah laku yang maladaptive
-          Memperkuat dan mempertahankan tingkah laku yang diinginkan
Menurut Krumblotz dab Thorensen ada tiga kriteria dalam merumuskan tujuan konseling atau psikoterapi, yaitu:
-          Tujuan yang dirumuskan haruslah tujuan yang diinginkan oleh klien, ada kesepakatan antara klien dan konselor
-          Konselor harus bersedia membantu klien dalam mencapai tujuan
-          Harus terdapat kemungkinan untuk menaksir sejauh mana klien bisa mencapai tujuannya.
Kalau klien tidak bisa mendefinisikan masalahnya dengan jelas, maka tugas konselor adalah mendengarkan kesulitan secara aktif dan empatik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar